Jakarta - Personel militer PBB yang bertugas dibawah komando Monusco (Mission de I’Organisation de republic des Nation Unies Pour la Stabilisation en Republique Democratique du Congo) mendapat pembekalan tentang pentingnya upaya menghindari praktik pelanggaran dan pelecehan seksual di wilayah penugasan.
Setiap personel militer harus selalu menegakkan standar profesional tertinggi dan memperlakukan penduduk lokal dengan rasa hormat dan bermartabat serta melindungi penduduk lokal, terutama kelompok peka seperti anak-anak dan kaum perempuan.
Dokter Kontingen Garuda XX-I/Monusco, Lettu Kes Andreas menyebutkan, ada sejumlah larangan yang sangat keras yang tidak boleh dilakukan oleh seluruh personel Monusco. Larangan itu antara lain terkait semua tindakan yang mengarah pada pelecehan dan pelanggaran seksual, semua jenis aktivitas seksual dengan anak-anak (di bawah usia 18), serta penggunaan uang, ketenagakerjaan, jata atau barang-barang untuk memperoleh kegiatan seksual dengan memanfaatkan jasa pekerja seks komersial.
"Monusco akan membuat pertimbangan yang sangat serius terhadap setiap pelanggaran atas kasus pelecehan seks. Apabila ada yang melanggar, akan dilaporkan ke Sekretaris Jenderal PB dan kepada si pelaku akan dikenai sanksi hukum yang berlaku," demikian disampaikan dr Andreas, dalam rilis yang diterima gresnews.com, Jumat (27/1).
Untuk lebih meningkatkan pemahaman tentang ketentuan pelarangan setiap pelanggaran dan pelecehan seks, Monusco mengadakan pelatihan khusus. Pelatihan itu diikuti oleh utusan dari masing-masing perwakilan kontingen yang berjumlah 40 orang dari jajaran Brigade Ituri, Brigade Nort Kivu, Brigade South Kivu diantaranya Kontingen Indonesia, Nepal, Uruguay, Bangladesh, Pakistan, Afrika Selatan, Maroko, Tunisia, Mesir dan India. Kontingen Garuda Indonesia diwakili oleh dr Andreas dalam sesi pelatihan yang digelar 25 dan 26 Januari di Eastern Integrated HQ Conference Room, Goma Demokratik Republik of Kongo.
Redaktur : Oki Baren (oki@gresnews.com)